Info Sekolah
Kamis, 02 Des 2021
  • Wajib melaksanakan 5 (lima) M : 1. Memakai Masker; 2. Menjaga Jarak; 3. Mencuci Tangan; 4. Menjauhi Kerumunan; 5. Membatasi mobilitas.

PERSPEKTIF BK: KESURUPAN

Senin, 4 Mei 2020 Oleh : riyadh
Assalamu alaikum wr wb
Selamat datang di dunia BK SMK Negeri 1 Gunung Jati, tempat sharing dan diskusi seputar Bimbingan dan Layanan BK serta perkembangn peserta didik. Pertama—tama BK sampaikan terima kasih kepada Bapak Ir. Sucipto Hadi Waluyo, MM. selaku Kepala SMK Negeri 1 Gunung Jati yang telah mempelopori komunikasi interaktif antar siswa dan Guru terutama Guru Bimbingan Konseling yang memiliki keterbatasan waktu dalam memberikan bimbingan dan layanan serta edukasi psikologis ke peserta didik, dengan hadirnya web/blog ini semoga mampu menjadi sarana untuk mencapai tujuan visi misi SMK dan BK SMK negeri 1 Gunung Jati.
Bismillahirohmanirohim
Untuk materi yang pertama, BK mencoba mengangkat permasalahan yang sering timbul/terjadi di lingkungan SMK Negeri 1Gunung Jati yang berkaitan dengan Psikologi peserta didik yaitu: “KESURUPAN”
Selama mengajar di SMK Negeri 1 Gunung Jati, entah sudah berpa kali menemui kejadian yang lumrah disebut “Kesurupan”. Pada awalnya BK kurang peduli atau lebih tepatnya tidak mau ikut campur. Mungkin karena BK tidak memiliki pemahaman supranatural dan banyak teman juga yang ahli “hikmah”. Namun lambat laun mau tidak mau BK harus juga terlibat sebagai Guru Bimbingan Konseling, yang dianggap lebih memahami tentang Psikologis Siswa. Maka dari itu BK mencoba mengkaji masalah kesurupan tersebut dari perspektif Psikologi perkembangan. BK melihat jika hal ini dibiarkan berlarut—larut akan berdampak luas dan sangat mempengaruhi perkembangan psikologi peserta didik di lingkungan SMK Negeri 1 Gunung Jati. Namun Sebelum kita masuk ke rana bagaimana penanganan kasus kesurupan yang sering terjadi dilingkungan SMK, mari kita pahami apa itu “Kesurupan”
Kesurupan menurut para ahli psikologi adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi Disosiasi. Reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya yang disebabkan adanya tekanan fisik maupun mental. Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Dissociative trance disorder dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan kepanikan bagi lingkungannya (histeria massa). Epidemiologi Possesion ini biasanya berkaitan dan berhubungan dengan krisis sosial di masyarakat. Kesurupan merupakan refleksi kegagalan yang sedang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan. Maka pada prakteknya jadi heran kalau kesurupan dikait-kaitkan dengan makhluk halus. Menurut ahli, kesurupan bisa dijelaskan secara rasional. Kesurupan adalah gejala kejiwaan.  Menurut Pratiknya, kesurupan hanya merefleksi chaos luar biasa di tengah masyarakat. Kalau tekanannya jelas, kasat mata, orang mudah melawannya.
Sementara dari perspektif psikologi, kesurupan sendiri sebenarnya telah menjadi kajian psikologi klinis, terutama psikologi abnormal. Kesurupan dalam psikologi dikenal dengan istilah trans dissosiatif dan trans possession disosiatif. Trans dissosiatif adalah perubahan dalam kesadaran yang bersifat temporer atau hilangnya perasaan identitas diri tanpa kemunculan identitas baru. Sedangkan trans possession dissosiatif adalah perubahan dalam kesadaran yang dikarakteristikkan dengan penggantian identitas personal yang selama ini ada dengan identitas yang baru. Ada Dua perspektif Psikologi yang dapat digunakan untuk melihat kasus kesurupan yaitu kajian Psikoanalisis dan Psiikologi Transpersonal. Akan tetapi hepotesis dari psikoanalisis yang sangat bisa diterima.Dalam pandangan psikologi fenomena kesurupan dibagi tiga:
  1. Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya;
  2. Hysteria , saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya ,
  3. Split personality , saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.  Penjelasan ini seringkali mengalami benturan dengan kenyataan-kenyataan budaya.
Gejala-gejala beberapa waktu sebelum kesurupan antara lain kepala terasa berat, badan dan kedua kaki lemas, penglihatan kabur, badan terasa ringan, dan ngantuk. Perubahan ini biasanya masih disadari oleh subjek, tetapi setelah itu ia tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya. Melakukan sesuatu di luar kemampuan dan beberapa di antaranya merasakan seperti ada kekuatan di luar yang mengendalikan dirinya. Mereka yang mengalami kesurupan merasakan bahwa dirinya bukanlah dirinya lagi, tetapi ada suatu kekuatan yang mengendalikan dari luar. Keadaan saat kesurupan ada yang menyadari sepenuhnya (Irradiation), ada yang menyadari sebagian (Being Diside) dan ada pula yang tidak menyadari sama sekali (Incorporation). Dalam keadaan kesurupan korban melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental, dan tercetus dengan bebas. Saat itu merupakan kesempatan untuk mengekspresikan hal-hal yang terpendam melalui jeritan, teriakan, gerakan menari seperti keadaan hipnotis diri. Setelah itu, fisik mereka dirasa lelah tetapi, mental mereka mendapat kepuasan hebat. Dari pemantauan dan penelitian sederhana yang dilakukan BK dengan melihat keseharian (penelitian dari Skala Ketegangan, Skala Emotional, Kondisi Struktur Tubuh/Kesehatan/faal) secara langsung terhadap siswa yang sering mengalami kesurupan dapat disimpulkan Siswa yang kesurupan merupakan orang yang mengalami pertentangan batin/diri sehingga untuk mengepresikannya membiarkan dirinya masuk kealam histeria dan kebanyakan dari mereka memeliki kondisi yang lemah struktur tulang belakang/kesehatan.
Pemahaman yang BK dapatkan dari beberapa kejadian kesurupan yang menimpa peserta didik SMK Negeri 1 Gunungjati adalah kebanyakan Trance Histeria (Hanya histeris), seperti yang terjadi kepada siswi salah satu program keahlian yang menjadi langganan kesurupan, tatapan matanya dan ekspresinya mencerminkan rekayasa namun jika dibiarkan dan tidak ditangani berkelanjutan akan sangat mempengaruhi kejiwaan. Sebagai guru BK sangat mencemaskan jika menjadi penyimpangan prilaku (Bipolar dsb). Hal ini terjadi karena kondisi kejiwaan peserta didik tersebut yang tidak stabil, ketidakstabilan ini menggambarkan bahwa mereka memiliki tingkat ketegangan dan konflik sosial yang terpendam.
Untuk itu, jika terjadi kesurupan sebaiknya kita lakukan penangan seprti beberapa hal :
  1. Pisahkan dan jauhkan dari keramaian serta buat kondisi tenang.
  2. Tempatkan peserta didik yang kesurupan di tempat tertutup namun yang aman dan udara bisa keluar masuk dalam ruangan dengan baik
  3. Tenangkan peserta didik yang mengalami kesurupan, biarkan dan jangan dipaksa atau dipegang apalagi diteriaki terlebih di pukul pukul
  4. Kalau membaca Al—Qur’an bacakan dengan penuh kekhusyuan dan dengan nada pelan sehingga akan menenangkan si sakit, kalau dibaca dengan menghentak hentak anak yang terkena akan semakin histeris dan teriakan dari pembacaan Al—Quran tadi akan memperkeruh keadaan. Dalam hal ini kita harus bijak dalam mendudukkan Al—Quran jangan melecehkan Al—Quran dengan menggunakannya yang bukan pada tempatnya, gunakan Al—Quran sebagai petunjuk hidup bukan sebagai alat pengusiran jin.
  5. Jika keadaan semakin tidak terkendali, jangan memanggil paranormal, atau memanggil dukun dan sejenisnya. Namun panggilah dokter untuk memberikan obat penenang kepada peserta didik, dan jika sudah dampingi anak dengan orang tuanya.
  6. Jangka panjang ciptakan suasana sekolah yang cerah dan ceria, baik lingkungan maupun hubungan guru muridnya dan tentunya proses belajar mengajar.
Demikian sekilas ulasan dan penjelasan sederhana dan singkat tentang fenomena kesurupan di lingkungan SMK. Saran dan masukan serta pertanyakan untuk sarana diskusi silakan dilanjutkan dikolom komentar.
(Telah dilihat: 108 kali)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pengumuman

Diterbitkan :
KUESIONER TRACER STUDY BAGI STAKEHOLDERS
(Koresponden adalah pihak yang berkepentingan/menggunakan jasa Alumni SMK Negeri 1 Gunung Jati) Yang terhormat user/pengguna..
Diterbitkan :
Hasil Seleksi PPDB 2021 Tahap II
(Telah dilihat: 148 kali)
Diterbitkan :
RAPOR 10 TBSM 1 Semester Genap
(Telah dilihat: 300 kali)